LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM PEMBUATAN BINDER

KELOMPOK : VII ( Tujuh )
Disusun Oleh:
1. Jumhir ( 100102012 )
2. Ratna Sari Dewi ( 100102022 )
3. Rika Febriyani ( 100102023 )

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
AKADEMI TEKNOLOGI KULIT
YOGYAKARTA
2012

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Laporan Resmi Praktikum Pembuatan Binder

Disusun Oleh :
1. Jumhir ( 10102012 )
2. Ratna Sari Dewi ( 10102022 )
3. Rika Febriyani ( 10102023 )

Dinyatakan memenuhi/belum memenuhi*) persyaratan pengesahan Laporan Resmi.

Yogyakarta, 06 Januari 2012

Menyetujui Praktikan
Dosen Pengampu Jumhir ( )
Ratna Sari Dewi ( )
Rika Febriyani ( )
Sri Sumarni Bsc

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas rahmat dan hidayah-Nya maka penyusun telah berhasil menyelesaikan laporan praktikum mengenai “Laporan Resmi Praktikum Pembuatan Binder”. Laporan yang sederhana ini disajikan dari bahan materi yang diambil dari hasil pengamatan dari praktikum, Tanya jawab bahkan buku dan situs internet sebagai pelengkapnya.
Atas terselesainya laporan praktikum ini, pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Sri Sumarni, Bsc dan asisten dosen yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk membuat laporan praktikum ini.
2. Teman-teman yang telah ikut serta membantu penulis dalam mencari bahan guna mendukung penulisan laporan praktikum ini.
3. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian laporan praktikum ini.

Akhir kata “tiada gading yang tak retak”, begitu pula dengan laporan ini. Oleh karenanya kritik dan saran tetap dinantikan untuk membantu penyempurnaan penyusunan laporan dimasa yang akan datang. Semoga laporan ini bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya
Yogyakarta, 06 Januari 2012

Penulis
Kelompok 7

DAFTAR ISI Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………………… 1
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………………………………………. 2
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………… 3
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………………… 4
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang…………………………………………………………………………………………. 5
1.2. Tujuan praktikum……………………………………………………………………………………… 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Dasar Teori………………………………………………………………………………………………..7

BAB III METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Alat dan bahan………………………………………………………………………………………….11
3.2. Langkah Kerja………………………………………………………………………………………….11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil…………………………………………………………………………………………………………14
3.2. Pembahasan………………………………………………………………………………………………15

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………18
5.2. Saran……………………………………………………………………………………………………….18

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………19

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Binder merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam proses penyamakan kulit. bahan ini memiliki fungsi atau manfaat sebagai perekat antara cat tutup dengan cat dasar. Binder ini biasanya terbuat dari bahan-bahan yang mengandung protein, contoh bahan-bahan yang mengandung protein antara lain susu, telur, kulit, dan lain-lain.
Lazimnya orang-orang yang terjun di industri perkulitan cenderung menggunkan binder paten. Karena mereka sudah tahu kualitas binder paten itu sendiri. Padahal jika kita bandingkan binder konvensional dengan binder-binder paten, tidak menutup kemungkinan binder konvensional kalah kualitasnya dengan binder-binder paten.
Dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan melonjaknya harga-harga bahan-bahan kimia. Orang-orang mulai mencoba menggunakan binder alami dengan kualitas yang hampir sama, sama, atau bahkan lebih baik dipandingkan dengan dinder-binder yang telah dipatenkan.Selaiin itu, menilik pada perkembangan zaman yang semakin canggih dan kebutuhan manusia yang juga semakin meningkat maka akan terasa sekali pentingnya perkembangan ilmu pengetahuan baik secara teoritis maupun praktis. Oleh karena itu, dengan semakin majunya peradaban manusia maka penggunaan alat pemenuhan kebutuhan juga semakin meningkat. Hal ini juga terjadi didunia industri perkulitan.
Dalam prosesnya penyamakan tidak lepas dari penggunaan bahan – bahan kimia baik yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya. Bahan –bahan kimia tersebut banyak diperoleh dari pabrik yang kebanyakan menggunakan bahan – bahan kimia campuran yang memiliki dampak yang kurang baik bagi lingkungan. Bahan-bahan kimia dan pendukung lainnya ini tidaklah dapat diperbaharui dalam waktu yang singkat apabila telah habis dalam penggunaannya. Sehingga ada kekhawatiran bahwa sumber-sumber untuk memperlancar proses penyamakan ini akan habis pada suatu saat nanti.
Solusi yang paling mudah adalah mencari bahan alternatif yang dapat mendukung dalam proses penyamakan yang dapat diperbaharui maupun yang masih tersedia dalam jumlah besar, seperti dari tumbuh-tumbuhan, hewan, dan alam sekitar kita yang dapat dimanfaatkan secara mudah, tanpa harus adanya bahan kimia yang berlebih. Karena apabila dalam penggunaan bahan kimia yang berlebih dengan tidak diimbangi dengan bahan alami, akan menyebabkan dampak yang negatif bagi kulit maupun barang jadinya nanti. Dibanding dengan bahan- bahan kimia dari pabrik, penggunaan bahan alami yang berasal dari lingkungan dirasa juga lebih aman dan tentunya lebih ramah lingkungan.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui bagaimana proses pembuatan binder/perekat dari bahan dasar susu sapi segar, putih telur dan binder paten
2. Mampu mengaplikasikan binder yang telah dibuat pada kulit secara langsung.
3. Menguji tingkat kelunturan binder dengan alat crockmeter.
4. Menguji dan mengetahui tingkat tensile strength (kekuatan tarik) kulit yang telah diberi larutan binder.
5. Mengetahui tingkat kemuluran dari kulit yang telah diberi binder.

BAB II TINJAUAN PUSTAKAN

2.1. Dasar Teori
Binder
Binder merupakan bahan perekat atau pelapis pada proses finishing penyamakan kulit, sehingga permukaan kulit halus dan rata (Sharphouse, 1971). Binder adalah salah satu bahan yang digunakan dalam pengecatan tutup. Cat tutup merupakan bahan yang dipakai dalam proses pengecatan tutup.
Adapun tujuan dari pengecatan tutup itu sendiri adalah:
1.) Memperindah penampilan kulitnya dengan cara memperkuat warna, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah dan menutup cacat atau penampakan warna cat dasar yang tidak rata.
2.) Melindungi rajah kulit dari kerusakan karena gesekan, pukulan, panas, hujan dan terpaan sinar matahari.
Berdasarkan bahan dasarnya binder dibedakan menjadi:
1.) Binder dengan bahan dasar alami (binder casein) susu, darah sapi, telur ayam.
2.) Binder dengan bahan dasar sintesis, selulosa asetat, poly vinil alcohol dan asam poly acrilio.
Binder merupakan substansi pembentuk lapisan film yang dapat mengkilapkan kulit pada proses glazing (digosok dengan kaca). Adapun syarat-syarat binder yang digunakan antara lain:
a.) Tidak mudah retak apabila melekat pada kulit.
b.) Tahan terhadap sinar matahari.
c.) Tahan terhadap gesekan.
d.) Menambah daya tarik kulit jadinya.
e.) Tahan terhadap lingkungan fisik maupun kimiawi.

Putih Telur
Albumen atau putih telur, merupakan 60% dr total brt telur tdr dr laps putih telur bag dlm, laps putih telur cair,laps putih telur padat, dan chalaza (Stadelman dan Cotterill,1977, Triyuwanta, 1983). Komposisi telur : air 66,74 % , protein 12-13%, lemak 10,5%, abu 5% dan Ca serta pospor masing-masing 0,5%
Putih telur mudah menggumpal pada suhu 55°C , sehingga penambahan asam karbol (fenol) sebagai pengawet
Protein mengalami denaturasi pada suhu 65°C, denaturasi yaitu terjadinya perubahan fisik dari protein yang ada pada putih telur karena pengaruh suhu dan pH tinggi, serta pemanasan di atas suhu 60°C

Susu Sapi
Susu merupakan hasil sekresi kelenjar susu sapi yang sedang laktasi atau ternak yang sedang laktasi, dan pemerahan dilakukan secara sempurna, tanpa ditambah atau dikurangi oleh sesuatu komponen. Protein penyusun utama pada susu adalah casein, yang banyaknya mencapai 80% dari protein yang ada. Protein dalam susu dapat mengalami dapat mengalami denaturasi pada suhu 65ºC, yakni terjadi perubahan fisis pada susu akibat pengaruh pH dan suhu yang tinggi.
Susu segar mempunyai nilai ph 6,6-6,7 susu mengalami penurunan bila terjadi aktifitas di dalam susu yang dapat menghasilkan asam, misalnya bakteri acetobacter aceti yang menghasilkan asam asetat. Susu mempunyai nilai ph 6,8 atau lebih diakibatkan oleh ketidak keseimbangan mineral didalam susu. Susu mempunyai citarasa manis dan agak asin. Rasa asin berasal dari klorida dan sitrat dari garam-garam mineral.
Menurut Kirk (1954) dan Hourowitz (1955) protein merupakan kumpulan gumpalan-gumpalan amino dari asam amino yang memiliki ikatan peptida. Sedangkan asam amino adalah asam karboksilat yang mengandung gugus asam amino. Protein bila dihidrolisis akan menghasilkan asam amino ± 20 turunan.
Turunan dari asam amino dari hasil hidrolisa dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok:
 Asam amino yang rantai cabangnya bersifat kationik atau bersifat basa.
Contoh: Arginine, Lysine, Histidine
 Asam amino yang rantai cabangnya bersifat anionic atau bersifat asam.
Contoh: Glutamic acid, Aspartic acid
 Asam amino yang rantai cabangnya bersifat netral.
Contoh: Serine, Threonine, Tyrosine, Tryptophan, Cystine, Methionine, Hydroxyproline.
 Asam amino yang rantai cabangnya bersifat nonpolar.
Contoh: Glycine, Leucine, Isoleucine, Phenililala nine, proline
Protein dalam susu mencapai 3,25%. Struktur primer protein terdiri atas rantai polipeptida dari asam-asam amino yang disatukan ikatan-ikatan peptida (peptide linkages). Beberapa protein spesifik menyusun protein susu. Kasein merupakan komponen protein yang terbesar dalam susu dan sisanya berupa whey protein. Kadar kasein pada protein susu mencapai 80%. Kasein terdiri atas beberapa fraksi seperti alpha-casein, betha-casein, dan kappa-casein. Kasein merupakan salah satu komponen organik yang berlimpah dalam susu bersama dengan lemak dan laktosa.(http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/2212800-kandungan-protein-dalam-susu/#ixzz1j0lPzWWG)
Protein
Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang penting perananya dalam makhluk hidup. Fungsi dari protein itu sendiri secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu sebagai bahan struktural dan sebagai mesin yang bekerja pada tingkat molekular. Apabila tulang dan kitin adalah beton, maka protein struktural adalah dinding batu-batanya. Beberapa protein struktural, fibrous protein, berfungsi sebagai pelindung, sebagai contoh a dan b-keratin yang terdapat pada kulit, rambut, dan kuku. Sedangkan protein struktural lain ada juga yang berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen.
Protein dapat memerankan fungsi sebagai bahan struktural karena seperti halnya polimer lain, protein memiliki rantai yang panjang dan juga dapat mengalami cross-linking dan lain-lain. Selain itu protein juga dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi-reaksi kimia dalam sistem makhluk hidup. Makromolekul ini mengendalikan jalur dan waktu metabolisme yang kompleks untuk menjaga kelangsungan hidup suatu organisma. Suatu sistem metabolisme akan terganggu apabila biokatalis yang berperan di dalamnya mengalami kerusakan.
Struktur Protein
Bagaimana suatu protein dapat memerankan berbagai fungsi dalam sistem makhluk hidup? Jawabnya adalah terletak pada strukturnya. Struktur protein terdiri dari empat macam struktur. Struktur pertama adalah struktur primer. Struktur ini terdiri dari asam-asam amino yang dihubungkan satu sama lain secara kovalen melalui ikatan peptida. Informasi yang menentukan urutan asam amino suatu protein tersimpan dalam molekul DNA dalam bentuk kode genetik. Sebelum kode genetik ini diterjemahkan menjadi asam-asam amino yang membangun struktur primer protein, mula-mula kode ini disalin kedalam bentuk kode lain yang berpadanan dengan urutan kode genetik pada DNA, yaitu dalam bentuk molekul RNA. Adapun gambar berikut ini merupakan struktur dari protein.
Kasein berasal dari bahasa latin yaitu Caseine yang berasal dari kata caesus yaitu keju. Kasein adalah zat yang digunakan sebagai stabilisator emulsi air susu. Kasein merupakan proteida fosfor yang dijumpai dalam endapat koloida air susu.
Kasein merupakan hasil pengolahan susu yang larut dalam larutan alkali dan asam pekat, mengendap dalam asam lemak, dan tidak larut dalam air, digunakan dalam pembuatan kertas sebagai bahan perekat dan pengikat pigmen pada permukaan kertas cetak seni atau digunakan dalam ofset sebagai bahan peka cahaya dalam pembuatan pelat. (http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2119918-pengertian-kasein/#ixzz1j0kvQinU)

Binder Patent
Binder patent adalah binder yang telah teruji kualitasnya untuk proses finishing pada kulit tersamak. Binder patent adalah binder yang paling sering digunakan pada proses finishing kulit tersamak, karena kualitasnya telah teruji. Ada berbagai macam jenis binder patent. Ada yang bersifat termoplastik dan ada yang bersifat termoset. Binder patent termasuk binder sintetis. Setiap binder patent berbeda kualitasnya, ini tergantung spesifikasi binder tersebut, digunakan untuk kulit jenis apa, dan dilihat dari struktur kulit yang akan melalui proses binder.

BAB III METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Alat Dan Bahan
A. Alat
Beaker glass Sudip/pengaduk
Erlenmeyer Termometer
Corong gelas piknometer
Pipet tetes Labu ukur
Pipet gondok Gunting
Penangas listrik Kertas pH
Kain kasa Kertas saring
B. Bahan
Susu sapi segar ½ liter Pigment hitam
Asam asetat akuades
Kulit kambing wax
Binder SSJ filler
Putih telur

3.2. Langkah Kerja
Pembuatan Binder Dari putih telur
 Ditimbang putih telur sebanyak 20 gram, gliserin 15 gram, amoniak 2,5gram, filler 415 10 gram dan pigment hitam sebanyak 10 gram
 Dimasukkan kedalam gelas beker
 Dijadikan 100 ml dengan ditambah air, sambil diaduk samapai homogen
 Diulas 2×3 kali kemudian dikeringkan sampai kering
 Setelah kering diulas denagn thiner, dan dikeringkn

Pembuatan Binder Dari Susu Sapi Segar
 Memasukkan susu sapi segar kedalam beaker glass 1000 ml.
 Memanaskanny hingga tercapai panas 34ºC-36ºC.
 Angkat dan cek pH awal.
 Menambahkan larutan H2SO4 2% tetes demi tetes sampai pH mencapai 4,6 sambil diaduk-aduk dan hingga terjadi penggumpalan.
 Menyaring dengan kain kasa, dicuci bersih dengan aquades, lalu dioven

Pembuatan Binder Patent
 Ditimbang Luron sebanyak 20 gram, gliserin 15 gram, amoniak 2,5gram, filler 415 10 gram dan pigment hitam sebanyak 1 gram
 Dimasukkan kedalam gelas beaker
 Dijadikan 100 ml dengan ditambah air, sambil diaduk samapai homogen
 Diulas 2×3 kali kemudian dikeringkan sampai kering
 Setelah kering diulas dengan thinner, dan dikeringkan

Pembuatan Binder Patent
 Ditimbang binder SSJ sebanyak 20 gram, gliserin 15 gram, amoniak 2,5gram, filler 415 10 gram dan pigment hitam sebanyak 1 gram
 Dimasukkan kedalam gelas beaker
 Dijadikan 100 ml dengan ditambah air, sambil diaduk samapai homogen
 Diulas 2×3 kali kemudian dikeringkan sampai kering
 Setelah kering diulas denagn thiner, dan dikeringkan

Pengujian
1. Uji fisis
Uji kelunturan warna pada binder patent SSJ
 Kulit dipotong seperti gambar berikut ini sebanyak 2 lembar:
20 cm

3cm

 Memotong kain putih dengan ukuran 5×5 cm sebanyak 2 lembar
5 cm

5 cm
 Kulit yang telah dipotong diletakkan dalam crock meter.
 Membasahi kain yang sudah dipotong dengan aquades, dan dikibas-kibaskan agar air tidak terlalu banyak atau terlalu basah dan kain yang satunya dibiarkan tetap kering.
 Menata hingga semua penuh pada masing-masing posisi, menghidupkan mesin.
 Menghitung 10 kali penggosokan, dan kulit dilepaskan dari crock meter.
 Menggunakan grey scale untuk melihat hasil dari penggosokan dengan crockmeter.
 Mencatat informasi yang didapatkan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
1. Pembuatan binder putih telur
 Putih telur= 20 gram
 Warna binder= putih
 Binder+pigmen hitam = hitam
2. Pembuatan binder susu sapi
 Volume susu sapi= ½ liter
 pH awal susu= 6
 pH setelah ditetesi asam asetat= 4,6
 suhu= kurang dari 60 0C
 Berat Jenis = 41,2306
 Susu menggumpal setelah ditetesi asam asetat
 Perubahan warna: Susu sapi + asam asetat kuning + dioven kuning kecoklatan Warna binder = Kuning kecoklatan
3. Binder patent
 Luron= 20 gram
 Gliserin= 15 gram
 Amoniak= 2,5 gram
 Filler 415= 10 gram
 Pigmen hitam= 1 gram
 Warna binder= hitam
4. Pembuatan binder SSJ
 Binder SSJ= 20 gram
 Warna= putih
5. Pengujian kulit hasil aplikasi binder paten (SSJ)
 Banyak gosokan= 10 kali
1. uji gosok cat dengan stanning (yang dilihat/diuji adalah kain)
• kain basah = tidak luntur ( no.5 )
• kain kering = tidak luntur ( no. 5 )

2. uji gosok cat dengan assesing (yang dilihat/diuji adalah kulit)
• Kulit (kain basah) = tidak luntur ( no. 5)
• Kulit (kain kering) = tidak luntur ( no. 5)

4.2. PEMBAHASAN

1. Pembuatan binder dari putih telur
Pada pembuatan binder putih telur, langkah kerja pertama yang kami lakukan adalah menimbang putih telur sebanyak 20 gram. Fungsi putih telur adalah sebagai bahan dasar pembuatan binder putih telur, yaitu sebagai sumber protein. Setelah itu ditambahakan 15 gram gliserin, fungsi gliserin adalah sebagai tackifier atau penambaha daya rekat binder dan sebagai plasticizer, sehingga kulit yang diaplikasikan menjadi lebih lemas. Setelah penambahan gliserin sambil diaduk, selanjutnya adalah menambahkan 2,5 gram amoniak sebagai pengawet supaya binder menjadi tahan lama. Fungsi amoniak juga untuk menaikkan pH menjadi 8-9. Selanjutnya ditambahkan filler 415 10 gram . Fungsi penambahan filler adalah sebagai bahan pengisi. Setelah itu ditambahkan 10 gram pigmen hitam. Tujuan penambahan pigmen hitam adalah untuk memberi warna, sehingga kulit yang dihasilkan berwarna hitam. Setelah semuanya tercampur merata, selanjutnya ditambahkan 100 ml air, lalu diaduk sampai homogen. Fungsi air adalah sebagai pelarut bahan-bahan kimia. Binder putih telur biasanya digunakan untuk memperoleh hasil kulit yang rajah kulitnya kelihatan. Setelah pembuatan binder selesai, selanjutnya binder di ulaskan ke permukaan kulit kambing, diulas 2-3 kali.

2. Pembuatan binder casein dari susu sapi
Binder casein merupakan bahan pengemulsi pigment. Didalam emulsi, cat pigment kan dikelilingi oleh binder sehingga cat pigment dapat merekat diatas permukaan kulit. Pada emulsi cat,binder berfungsi merekatkan pigment pada permukaan kulit.
Binder casein merupakan binder alami yang berasal dari susu sapi. Binder alami merupakn binder yang berasal dari alam. Pembuatan binder casein dimulai dengan susu sapi dimasukkan kedalam gelas beker sebanyak 500 ml kemudian dipanaskan sampai suhu 45oC dan jangan sampai lebih dari 45oC karena dapat menyebabkan denaturasi ( kerusakan protein) pada susu sapi. Tujuan dari pemanasan adalah untuk memecah molekul koloid susu, sehingga susu mudah bereaksi dengan zat lain dalam hal ini adalah CH3COOH.
Setelah suhu pemanasan mencapai 45oC, maka gelas beker diturunkan kemudian ditetesi dengan CH3COOH. Tujuan ditambahkan asam asetat adalah untuk menurunkan pH susu sehingga menyebabkan casein susu menggumpal karena adanya pengaruh dari penambahan asam. Asam akan bereaksi dengan casein pada susu sehingga casein susu akan menggumpal. pH awal susu adalah 6 kemudian setelah penambahan asam asetat, pH susu akan turun sampai pH=4,6. Pada pH 4,6 tersebut susu akan menggumpal dikarenakan pada pH tersebut,protein mencapai isoelektrik. Titik isoelektrik adalah terjadi keseimbangan antara asam muatan positif (+) dan muatan negetif (-) pada protein,sehingga diletakkan pada medan listrik dan ion-ion nya tidak akan bergerak.
Setelah casein susu menggumpal, maka disaring dengan menggunakan kain kasa untuk menyaring atau memisahkan gumpalan casein dari filtrat yang tidak digunakan. Gumpalan casein yang didapatkan kemudian dimasukkan kedalam Loyang,kemudian dimasukkan kedalam oven sampai suhu 50oC yang bertujuan untuk mengeringkan casein sampai membentuk Kristal (bubuk) sehingga binder casein lebih awet untuk disimpan dan tahan terhadap mikrobia.
Kandungan zat didalam susu sapi adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Kandungan zat dalam susu sapi
NO Komponen Kandungan rata (%)
1 Air 67,70
2 Bahan kering 12,10
3 Bahan kering tanpa minyak 8,60
4 Lemak 3,45
5 Putih telur 3,20
6 Casein 2,70
7 Albumin 9,50
8 Laktosa 4,60
9 Mineral 0,55
( sumber : Anonimus (1990)

3. Binder Patent
Binder paten adalah binder yang telah teruji kualitasnya untuk proses finishing pada kulit tersamak. Binder patent adalah binder yang paling sering digunakan pada proses finishing kulit tersamak, karena kualitasnya telah teruji. Langkah pertama yang kami lakukan pada praktikum ini adalah menimbang binder SSJ sebanyak 20 gram, kemudian dimasukkan kedalam gelas beaker. Fungsi binder SSJ adalah sebagai bahan dasar pembuatan binder untuk aplikasi ke kulit. Setelah itu, masukkan sebanyak gliserin 15 gram. Fungsi gliserin adalah sebagai plasticizer atau menambah daya rekat binder. Setelah binder SSJ dan gliserin tercampur merata, selanjutnya ditambahkan amoniak sebanyak 2,5gram. Untuk menaikkan pH menjadi 8-9 dan untuk mengawetkan binder supaya lebih tahan lama. Tambahkan filler 415 10 gram dan pigment hitam sebanyak 1 gram., aduk sampai homogen. Fungsi filler adalah sebagai bahan pengisi dan pigment hitam sebagai pemberi warna hitam. Dijadikan 100 ml dengan ditambah air. Fungsi air adalah sebagai pengencer. Setelah binder jadi, ulaskan binder tersebut diatas permukaan kulit bagian nerf, diulas 2-3 kali kemudian dikeringkan sampai kering. Setelah kering diulas denagn thinner untuk mengkilapkan kulit, sehingga hasilnya menjadi bagus, kemudian dikeringkan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Binder merupakan suatu bahan perekat yang digunakan untuk merekatkan warna dengan kulit pada proses finishing penyamakan kulit.
2. Binder dari putih telur dan susu sapi termasuk binder alami
3. Binder patent adalah binder yang telah teruji kualitasnya
4. Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh hasil binder dari putih telur berwarna hitam setelah ditambah pigment hitam, binder susu sapi berwarna kuning kecoklatan, dan binder patent berwarna hitam setelah ditmbahkan pigmen.
5.2. Saran
1. Gunakan jas praktikum pada saat praktikum, biar lebih aman
2. Harus hati-hati dalam praktikum
3. Teliti pada saat praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A.R.A. Edward, G.H. Fleet, M. Wooton, 1987, Ilmu Pangan. Terjemahan Hadi Purnomo Adiono. Universitas Indonesia. Jakarta.
Kirk, R.E and Donald F Othner, 1954. Encycyclopedia of Chemical Technology. Marck Printting Co. New York.
Plummer, D.T, 1979. An Introduction to Practical Biochemistry. Mc Graw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.
Sharphouse, J.H, 1971. Leather Technician’s Hand Book, Leather Producers Association London.
Siregar, S.M.S. 1990. Sapi perah Jenis Teknik Pemeliharaan dan Analisa Usaha. Penebar swadaya Jakarta.
Thoestensen, T.C, 1976. Prastical Leather Technology. Robert E Krieger Publishing Company. New York.
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/2212800-kandungan-protein-dalam-susu/#ixzz1j0lPzWWG. Diakses : 6 januari 2012, 19.21 wib
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2119918-pengertian-kasein/#ixzz1j0kvQinU. Diakses : 6 januari 2012, 19.22 wib