PERBEDAAN DAN HUBUNGAN ANTARA SYARIAH DAN IBADAH

DOSEN PENGAMPU: Drs.Arif Budi Raharjo Msi

DISUSUN OLEH:
ERNI DEWITA (10.TBKKP.TPL.184)
JUMHIR (10.TBKKP.TPL.192)
MURNI MAHDALENA SIREGAR (10.TBKKP.TPL.198)
RIMA NURUL AINI (10.TBKKP.TPL.204).

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN RI
AKADEMI TEKNOLOGI KULIT
YOGYAKARTA
2010/2011

A.PENGERTIAN SYARIAH
Syariah (berarti jalan besar) dalam makna generik adalah keseluruhan ajaran Islam itu sendiri. Dalam pengertian teknis-ilmiah syariah mencakup aspek hukum dari ajaran Islam, yang lebih berorientasi pada aspek lahir (esetoris). Namum demikian karena Islam merupakan ajaran yang tunggal, syariah Islam tidak bisa dilepaskan dari aqidah sebagai fondasi dan akhlaq yang menjiwai dan tujuan dari syariah itu sendiri.
Syariah memberikan kepastian hukum yang penting bagi pengembangan diri manusia dan pembentukan dan pengembangan masyarakat yang berperadaban (masyarakat madani).
Syariah meliputi 2 bagian utama :
1. Ibadah ( dalam arti khusus), yang membahas hubungan manusia dengan Allah (vertikal). Tatacara dan syarat-rukunnya terinci dalam Quran dan Sunah. Misalnya : salat, zakat, puasa
2. Mu’amalah, yang membahas hubungan horisontal (manusia dan lingkungannya) . Dalam hal ini aturannya aturannya lebih bersifat garis besar. Misalnya munakahat, dagang, bernegara, dll.
Syariah Islam secara mendalam dan mendetail dibahas dalam ilmu fiqih.
Dalam menjalankan syariah Islam, beberapa yang perlu menjadi pegangan :
a. Berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunah,menjauhi bid’ah (perkara yang diada-adakan)
b. Syariah Islam telah memberi aturan yang jelas apa yang halal dan haram , maka :
- Tinggalkan yang subhat (meragukan)
- ikuti yang wajib, jauhi yang harap, terhadap yang didiamkan jangan bertele-tele
c. Syariah Islam diberikan sesuai dengan kemampuan manusia , dan menghendaki kemudahan. Sehingga terhadap kekeliruan yang tidak disengaja & kelupaan diampuni Allah, amal dilakukan sesuai kemampuan
d. Hendaklah mementingkan persatuan dan menjauhi perpecahan dalam syariah
Syariah harus ditegakkan dengan upaya sungguh-sungguh (jihad) dan amar ma’ruf nahi munkar.

B. PENGERTIAN IBADAH
Tugas manusia di dunia adalah ibadah kepada Allah SWT .Meskipun merupakan tugas, tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah, karena Allah tidak memerlukan apa-apa. Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri.
Ibadah (‘abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat.
Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah. Lawan ibadah adalah ma’syiat.
Ibadah ada dua macam :
1. Ibadah Maghdhah (khusus)
yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritus. Misalnya : shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah jenis ini tidak banyak jumlahnya.
2. Ibadah ‘Amah (Muamalah)
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : menyantuni fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll.
Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :
1. Iman kepada Allah dan Hari akhir .Karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana.
2. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :
Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia niatkan.
3. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.

Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru dilarang. Sehingga berlaku prinsip ” Segala sesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan”. Kita dilarang membuat paham-paham baru yang tidak ada dasarnya.
Untuk mu’amalah : harus sesuai dengan jiwa dan prinsip- prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip ” Segala-sesuatu boleh, kecuali yang dilarang”
Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. Setiap upaya ibadah memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksiat yang berpengaruh negatif terhadap keimanan.
Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma’syiat (Hadis)
Setiap ibadah juga memiliki hikmah/tujuan-tujuan mulia, seperti :
- Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
- Puasa untuk mencapai taqwa.
- Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak.
- Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan kotor.
Selain itu juga memiliki keluasan dan keutamaan-keutamaan.

C. PERBEDAAN ANTARA SYARIAH DAN IBADAH
Syariah (berarti jalan besar) dalam makna generik adalah keseluruhan ajaran Islam itu sendiri. Dalam pengertian teknis-ilmiah syariah mencakup aspek hukum dari ajaran Islam, yang lebih berorientasi pada aspek lahir (esetoris), sedangkan Ibadah (‘abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat.

D. HUBUNGAN ANTARA SYARIAH DAN IBADAH
Hubungan antara syariah dan Ibadah adalah bahwa Ibadah itu adalah pelaksanaan dari Syariah, yaitu pelaksanaan peraturan dari Allah SWT. Dengan kata lain, Ibadah itu merupakan perbuatan konkret dari Syariah.

E. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa sangat erat hubungannya antara Syariah dan Ibadah.Tanpa adanya Syariah, Ibadah tidak bisa dilaksanakan.